Unsur Prosa

PROSA FIKSI terbentuk oleh unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik.

Unsur-unsur intrinsik, terdiri dari :

  1. Tema :  pokok masalah yang dijadikan dasar   cerita

Menentukan Tema : untuk menentukan tema dari sebuah karya sastra tentu saja harus didahului dengan membaca karya sastra itu terlebih dulu secara utuh (total). Setelah itu kita dapat mempertanyakan persoalan apa yang menjadi dasar cerita. Persoalan atau masalah yang dialami/dihadapi pelaku cerita itulah merupakan tema sebuah cerita.

  1. Alur/Plot  :  jalan cerita atau rangkaian peristiwa

Menentukan Alur : dilihat dari gerak peristiwa yang digambarkan alur dibedakan menjadi 4 macam, yaitu alur maju, alur mundur (flash back/sorot balik), alur melingkar, dan alur campuran. Sebuah cerita dikatakan menggunakan alur maju, apabila rangkaian gerak peristiwa yang digambarkan pengarang menunjukkan gerak maju (berurutan/kronologis).

Sedangkan apabila di dalam sebuah cerita ada bagian cerita yang mengurai balik pada peristiwa masa lalu/silam, maka alur yang digunakan menggunakan alur mundur (disebut alur flash back/sorot balik). Namun demikian, dapat juga terjadi kedua jenis alur di atas digunakan kedua-duanya. Cerita semacam ini biasanya mula-mula menggambarkan gerak peristiwa yang maju, kemudian tiba-tiba mundur, dan selanjutnya gambaran peristiwa bergerak maju kembali.

Tahapan-tahapan alur yaitu :

  1. Pengenalan
  2. Pengungkapan masalah
  3. Menuju konflik
  4. Ketgangan
  5. penyelesaian
  6. Watak/Karakteristik/Penokohan : gambaran mengenai sifat, penampilan lahir, maupun batin pelaku cerita.

Menentukan Watak/Karakter/Penokohan : penggambaran watak tokoh/pelaku cerita oleh pengarang dapat dilakukan melalui cara-cara sebagai berikut :

(a)        Penggambaran watak secara langsung, yaitu dengan cara      menerangkan langsung bagaimana watak pelaku, misalnya :

“ Meskipun gadis itu dibesarkan di kalangan keluarga yang bersifat terbuka dan akrab, dia tetap mempunyai ciri-ciri sifat pemalu dan cenderung tertutup “.

(Keterangan : Watak gadis itu pemalu)

(b)   Penggambaran watak secara tidak langsung, yaitu melalui :

  • Gerak fisik/perilaku, misalnya :“ Sepulangnya sekolah, Tamrin membanting tasnya ke lantai dan sambil berteriak dia memanggil adiknya yang tengah membaca-baca buku harian milik kakaknya itu. “ Kalau tidak ditaruh lagi, kupukul kau !” teriaknya.” (Keterangan : Tamrin berwatak keras)
  • Penjelasan tokoh lain (antar tokoh), misalnya : “Di bawah pohon flamboyan di halaman sekolah kedua orang siswa itu sedang membicarakan penampilan siswi bernama Tuti, seorang murid pindahan dari sekolah lain. Dia ramah sekali ! kata Anggi. Benar, memang seluruh keluarganya yang kukenal begitu – balas Dewi sambil mempermainkan rambutnya”. (Keterangan : Tokoh Tuti, sang siswi baru bersifat ramah)
  • Monolog (pembicarakan isi pikiran dan perasaan sang tokoh), misalnya: “ Mungkin hatiku kini akan menjadi sekeras batu. Siapapun orangnya, tak akan aku percayai lagi. Akhir-akhir ini aku dipaksa untuk menyimpulkan bahwa semua orang sulit aku percayai.” (Keterangan : watak/sifat tokoh “ aku” yang menjadi keras kepala)
  • Campuran : dalam sebuah cerita, tidak tertutup kemungkinan bahwa pengarang menggunakan seluruh cara penggambaran watak di atas. Cara semacam inidisebut cara campuran.
  • Berdasarkan perwatakannya tokoh cerita dibedakan menjadi dua, yaitu :
  1. Tokoh Protagonis : tokoh yang brprilaku/bermoral baik.
  2. Tokoh Antagonis  : tokoh yang berprilaku/bermoral tidak baik/jahat
  • Latar/Setting : gambaran mengenai tempat, waktu, suasana di dalam cerita.
  • Menentukan Latar/Setting : untuk menentukan latar, perhatikanlah tempat, suasana, waktu, masa atau zaman.
    1. Amanat/pesan : nasihat yang hendak disampaikan kepada pembaca.

    Menentukan Amanat/Pesan : setelah kita membaca dan memahami isi cerita, tentu kita dapat menyimpulkan pelajaran apakah gerangan yang dapat kita petik dari pengalaman hidup yang ada pada cerita tersebut. Hasil kesimpulan itu dapat dijadikan bahan untuk membuat suatu nasihat/saran yang perlu disampaikan kepada orang lain bila kita menemukannya dalam kehidupan nyata.

    1. Sudut Pandang/Pusat pengisahan : cara pengarang menempatkan diri pada cerita yang digambarkan.

    Menentukan Sudut Pandang/Pusat Pengisahan : kedudukan /tempat pengarang di dalam cerita secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi 2 macam :

    a)      Sudut Pandang Orang Pertama, seakan pengarang terlibat secara langsung dalam cerita. Ditandai dengan istilah “Aku” atau “ Saya “ dalam penyebutkan tokoh utamanya.

    b)     Sudut Pandang Orang Ketiga, pengarang sebagai pengamat dan hanya menceritakan apa yang terjadi di antara tokoh cerita. Ditandai dengan istilah “Dia” , “Ia” atau penyebutan nama orang.

Tinggalkan komentar

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s